3M ala Pejuang Dua Garis Merah : Menanti, Mengandung, dan Mitos


Memiliki anak adalah harapan bagi setiap orang tua. Ada yang langsung mendapatkan, ada pula yang harus diuji dengan penantian. Aku dan suami adalah pasangan yang juga diuji dengan penantian itu. Selalu berharap akan kehadirannya di tiap pergantian hari bahkan bulan sambil berharap semoga penantian ini tidak sampai hitungan tahun. Penantian itupun tetap kujalni sambil berbaik sangka akan ditangguhkannya kehadiran si kecil di hangatnya rahimku. Aku memang belum seberuntung teman-temanku yang langsung dipercaya mengandung buah hati di awal-awal usia pernikahan mereka tapi bukan berarti aku hanya meratapi tanpa ada usaha. Aku sudah mencoba meminum pil asam folat atas anjuran kakak ipar, mendownload aplikasi untuk mengetahui masa subur, dan lain sebagainya sampai akhirnya hasilnya pun masih nihil.

Enam bulan hidup bersama di satu atap, aku dan suami harus terpisah jarak karena aku diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu kota di Sumatera Selatan. Jaraknya 4 jam perjalanan dari kota kami. Tentunya berat berpisah dari suami dan orang tua, apalagi mengingat akan jadi semakin sulit mendapatkan buah hati kalau terpisah jarak begini. Walau begitu, kami tetap optimis dan selalu berharap di setiap waktu karena suami akan tetap mengunjungiku di hari Sabtu dan Minggu.

11 bulan pernikahan, belum juga ada tanda-tanda. Satu garis merah masih dengan setianya menghiasi alat test pack ke sekian yang aku beli. Akhirnya, aku mencari-cari artikel lewat dunia maya dan aku menemukan bahwa vitamin E dan Zinc bagus untuk pasangan yang ingin program hamil. Vitamin E sebaiknya diminum oleh wanita, sedangkan untuk pria dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan Zinc atau boleh mengonsumsinya dalam bentuk suplemen. Akupun segera menyambangi apotek untuk membeli vitamin E. Saat itu tak lagi kuingat mbak-mbak penjaganya menyebutkan harganya berapa karena aku terlalu bersemangat untuk merayu Tuhan dengan ikhtiar yang kami lakukan agar Ia percaya kalau kami memang benar-benar menginginkannya.



September adalah bulan pernikahan kami. Sudah satu tahun ternyata mengarungi bahtera rumah tangga sekaligus menanti kehadiran anak pertama. Tapi nyatanya, belum. Satu tahun pernikahan mungkin waktu yang disediakan oleh-Nya untuk mengenal karakter satu sama lain. Satu tahun pernikahan pula mungkin waktu yang disediaka oleh-Nya untuk melatih kesabaran kami. Tak apa. Kami tetap berbaik sangka.

Di bulan berikutnya, Oktober. Tak ada harapan dan keinginan sebesar harapan dan keinginan kami di 12 bulan belakang. Tapi harapan itu masih ada. Kami berdua seolah pasrah namun tak sampai menyerah. Kapsul vitamin E tetap aku minum, begitu pula dengan suamiku yang tetap mengkonsumsi kapsul Zinc. Jadwal haidku teratur setiap bulan, di akhir bulan tepatnya. Walau di pertengahan bulan Oktober aku sempat kaget karena ada flek keluar, tapi aku tidak menanggapinya dengan berlebihan. Aku tetap santai sampai akhirnya aku baru ingat kalau aku sudah terlambat empat hari dari tanggal haidku. Akupun mengeceknya dan tetap satu garis merah. Eh tapi, ada satu garis lagi yang begitu samar. Hamilkah?


Aku lega melihat dua garis merah yang begitu terang di satu minggu pasca tanggal haidku. Sabtu suamiku datang berkunjung, di hari itu pula ia menemaniku melihat kehadiran si kecil. Kelegaan ini bertambah kala kami melihat adanya kantung di layar walau harus datang kembali 2 minggu kemudian untuk mengetahui apakah si janin berkembang atau tidak. Pokoknya, doa tak pernah alpa kami panjatkan agar janinnya berkembang.

Bulan-bulan pertama aku jalani tanpa hadirnya orang tua dan suamiku di sisiku. Berat memang karena mual dan muntah tak henti-hentinya menyambangi dari pagi hingga ke pagi lagi. Penciuman jadi sangat tajam. Sampai-sampai aku tidak bisa lepas dengan obat anti mual yang diberikan oleh dokter kandunganku. Kecil, tapi memiliki efek yang luar biasa untuk menahan rasa mualku seharian. Begitu pula dengan bulan-bulan berikutnya. Drama mual dan muntah pun sudah berakhir. Aku tak menyangka bisa juga melewati fase itu dengan sehat, selamat, dan tak perlu opname di rumah sakit.

Aku bahagia dengan kehamilan ini dan kuharap akan terus seperti ini. Tapi, tidak semudah itu wahai Nona! Mitos-mitos kehamilan akan menemanimu sampai hari melahirkan tiba. Tak bisa lepas, tak bisa menghindar. Aku sampai stress memikirkan serangan mitos-mitos yang selalu diluncurkan dari orang-orang terdekat. Di saat-saat stress seperti itu, aku menenangkan diri dengan membuka aplikasi The Asia Parent. Hal yang selalu aku baca adalah pengalaman mengandung dan melahirkan bunda-bunda TAP, curhat-curhat rumah tangga, dan mitos-mitos lucu yang berkembang di mereka. Aku tersenyum. Aku tak sendiri ternyata. Di The Asia Parent juga aku menemukan banyak sekali artikel tentang mitos yang melekat pada ibu-ibu hamil.

 









Minum air es untuk ibu hamil masih menjadi 'petuah' yang ampuh untuk menakut-nakuti sang ibu hamil. Karena kalau bayi di dalam kandungan terlalu besar, akan sulit untuk dikeluarkan dan jalan terakhir akan dioperasi caesar. Ada beberapa ibu hamil yang masih percaya tapi ada juga yang tidak. Dalam laman 5 Mitos tentang Ibu Hamil, minum air es tidak akan menyebabkan bayi di dalam kandungan akan besar selama air es yang diminum oleh sang ibu adalah murni air putih biasa tanpa tambahan sirup, gula, bubuk pemanis instan, dan kental manis. Air dingin yang kita minum akan menyesuaikan dengan suhu tubuh kita. Jadi, kalau air dingin kita teguk, tidak akan menjadi dingin terus sampai dibuang.







Baik ibu sedang hamil maupun sedang tidak hamil, dilarang untuk menyiksa dan membunuh binatang. Begitu pula dengan suami, keluarga, tetangga, masyarakat, dan penduduk di muka bumi ini dilarang untuk membunuh binatang dengan sembarangan. Cacat dan tidak cacatnya bayi yang dikandung sebenarnya terjadi secara alamiah selama di kandungan. Ada yang disebabkan gen, ada juga disebabkan oleh rendahnya asupan zat gizi yang baik selama kehamilan. Bunda boleh tidak mempercayai mitos ini namun bukan berarti diperbolehkan untuk membunuh hewan ya, bun.







Kebutuhan kalori ibu hamil per harinya memang dianjurkan untuk ditambah 300 kkal sesuai dengan Angka Kucukupan Gizi ibu hamil. Artinya, jika kebutuhan per hari berdasarkan usianya adalah 1900 kkal, maka kebutuhan ibu hamil tersebut adalah 2200 kkal. Hal ini sudah disesuaikan agar ibu hamil tidak mengalami kekurangan juga tidak kelebihan zat gizi. Selain kuantitas, kualitas makanan ibu hamil juga perlu diperhatikan. Karena dianjurkan 2200 kkal, jadi makan sembarangan misal makan nasi setengah piring, sayur hanya setakar satu sendok makan, ikan potongan kecil. Atau makan sedikit, ngemilnya banyak agar pas 2200 kkal. Itu juga keliru.






Biasanya kalau ibu hamil yang memiliki rambut yang panjang kemudian saat mandinya keramas, pasti akan melilitkan handuk untuk mengeringkannya. Kalau di daerahku, ini pantang dilakukan karena bayi yang dikandungnya akan terlilit tali pusar. Tentu saja terlilit atau tidaknya bayi saat di dalam kandungan bukan karena handuk yang dililitkan di atas kepala. Bayi yang terlilit tali pusar menandakan bayinya bergerak aktif di dalam perut.

Mitos terakhir ini masih berkembang dan menyerangku kala itu yang masih menjabat sebagai ibu hamil. Jalan terakhir yang kuambil ialah dengan memotong rambut agar tidak ada lagi alasan rambut masih basah. Dan alasan paling utama sebenarnya adalah untuk menghindari perdebatan dengan orang terdekat. Sungguh, menjadi ibu hamil itu memang enak karena apapun akan dituruti tapi bagian yang tidak enaknya adalah mengkhawatirkan kehamilan dengan berlebihan mempercayai mitos-mitos yang belum tentu benar akan keberadaannya. Tapi yang jelas, kalau ada keluarga terdekat bunda-bunda mengatakan demikian kepada bunda yang sedang hamil, jawab "Iya" saja ya bunda karena kita menghargai perasaan mereka. Jangan sampai menyakiti hati mereka.



My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates