MIG di Sungai Keruh, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (1)

Huaaaah!!! Tiba-tiba rindu dengan segala macam yang berhubungan dengan praktik belajar lapangan di desa. Oh iya program kali ini namanya MIG (Manajemen Intervensi Gizi). Jadi, data yang sudah kami ambil tempo dulu di PPG (Program Perencanaan Gizi) kami intervensi selama 1 bulan ini di berbagai desa di kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kalau dihitung jarak per jam dari kota saya, Sekayu, hanya 1 jam. hehehe...

Jadi, entah kenapa saya semangat sekali ingin menuliskan kisah kami di salah satu desa di kecamatan Sungai Keruh ini sebagai kelompok yang luar biasa ketje-nya!! Baik, kita mulai yaa...

Awal Maret dulu pertemuan pertama kami dengan keluarga Pak Muis (masih sanak saudara dengan salah satu anggota kelompok kmi) di desa Kertayu. Kami memutuskan untuk pindah penginapan (dulu menginap selama 1 minggu di rumah kepala desa Kertayu) karena masalah keuangan. Pak Muis tinggal satu rumah bersama dengan seorang istri dan satu orang cucu. Di sebelahnya ada rumah kayu kecil dilengkapi dengan warung sederhana milik anak perempuan dan menantunya bernama yuk Lilis dan kak Leman. Mereka berdua dilengkapi sepasang anak perempuan dan laki-laki  yang masih kecil. Yang pertama masih duduk di kelas 5 SD dan si kecil usia sekitar 4 tahun-an.

Saat kami tiba di rumah, kami langsung disambut oleh kesederhanaan keluarga pak Muis ditemani oleh salh seorang dosen kami, bu Rusnelly yang rencananya akan ikut menginap bersama kami. Setelah berbincang dan menyepakati lamanya kami tinggal, kamipun langsung diajak untuk menyimpan barang-barang kami di kamar. Kamarnya lumayan luas untuk kami berenam jadi kami memutuskan kamar hanya bentuk formal saja untuk menyimpan barang-barang kami seperti koper dan makanan jajanan yang sudah kami peroleh dari adik tingkat yang sudah sengaja memberikan untuk kami (tradisi dari tahun ke tahun).

Gambar 1. Yuli saat memamerkan banyaknya makanan jajanan yang kami bawa.
Setelah itu, karena kami tiba sudah sore, tanpa mengganti seragam lagi kami langsung menyiapkan makanan dan minuman untuk acara MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) selepas Magrib. Tiara, teman kami satu kelompok, sudah membawa pempek dari Palembang, sengaja untuk dijadikan sajian malam MMD, ada roti dan juga gorengan yang ibu saya bawakan untuk disantap bersama, dan lainnya.

Gambar 2. Suci memerhatikan Tiara yang sedang membuka bungkusan pempek
Setelah menyiapkan makanan, kami pun bergegas membersihkan diri masing-masing dengan mandi di kamar mandi yang letakknya di belakang rumah Pak Muis. Dan MMD pun dimulai.

Gambar 3. Ibu-ibu tetangga

Gambar 4. Mahasiswi Gizi Poltekkes Kemenkes Palembang
Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami kembali ke desa Kertayu ini dan kembali memperkenalkan diri kepada masyarakat, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak yang datang, acara MMD pun ditutup dengan pembacaan doa oleh kepala dusun III desa Kertayu dan santap malam bersama.

Di rumah pak Muis, tak kami temui sinyal di hape masing-masing dengan berbeda operator tentunya. JAdilah kami bertanya dengan pemilik rumah dan beliau mengatakan kalau ingin mendapatkan sinyal, bisa dicari di jalanan depan rumah atau berjalan sedikit menuju tower listrik yang ada di sekitaran kantor PDAM yang tak jauh dari rumah. Bu Rusnelly yang ingin mengabarkan keadaan beliau dan kami di desa kepada suamipun langsung mengajak kami malam itu ke tower yang dimaksud. Tapi tak sampai di depan towernya, sinyal sudah terisi penuh di hape kami masing-masing dan duduklah kami di bawah saung milik penduduk ditemani rembulan yang purnama terang di atas kepala kami. Sungguh. Kisah yang tak ada tandingannya.

Gambar 5. Demi memperoleh hape di rumah, hape kami tenggerkan di jendela rumah
***
Selamat pagi desa Kertayu! Wuah hari pertama di desa Kertayu lagi! Masih belum terlalu dipusingkan dengan rangkaian kegiatan selama 1 bulan ini. Sambil menghirup udara pagi yang segar, dan kadang bercampur dengan bau karet, aku menemani bu Rusnelly yang akan dijemput oleh rombongan dosen yang juga menginap di desa sebelah yang jaraknya tidak terlalu jauh namun harus melewati medan jalan yang tidak mulus seperti lubang di sana sini dan berlumpur jika hujan turun.

Gambar 6. Suasana pagi hari di desa Kertayu
Setelah mengobrol agak lama dengan bu Rusnelly, jemputan pun datang dan kami ditinggal bertujuh bersama keluarga pak Muis selama 1 bulan. Pagi itu kami membantu membersihkan sisa kami tidur semalam. Oh ya, aku belum cerita ya. Karena kamar yang ada sempit untuk tidur kami berenam, jadi kami memutuskan untuk membentangkan kasur dan ambal di ruang tamu. Malam harinya memang gerah tapi kalau pagi, menggigil...

Belum ada agenda apapun di hari pertama kami tinggal di desa. Tapi, karena teman-teman geram tidak kunjung mendapatkan sinyal di hape, maka siang itu kami memutuskan untuk pergi ke kantor PDAM yang memiliki sinyal yang cukup kuat dan duduk bertengger di kantor PDAM yang jalannya menanjak. Adek-adek yang ada di rumah, Tira, Sulis, dan Iki ingin ikut saat kami pergi. Jadilah rama-ramai kami menuju PDAM tanpa meninggalkan senyum kepada masyarakat desa yang kami temui di jalanan.

Gambar 7. Iki dan Sulis saat menggandeng tanganku
Saat tiba di PDAM, hanya ada kami bertujuh yang dengan sengaja duduk di sana. Lingkungan sekitar tampak sepi oleh penduduk. Kami pun berada di sana sampai pemuda-pemuda dengan motor mereka datang ke PDAM karena di belakang kantor perusahaan air minum terdapat lapangan voli yang biasanya memang baik ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda dan pemudi desa bermain bahkan bertanding di sana.

Karena kami takut akan diganggu, kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan malamnya kami datang lagi untuk mencari sinyal lagi. Kami beranikan diri malam itu menaiki halaman kantor PDAM sekedar mencari 'sesuap' sinyal. Malam itu memang sepi tapi ternyata semakin malam semakin ramai dengan motor-motor bujangers Kertayu. Kami yang duduk di pinggir pagar PDAM itu pun langsung disambangi bujang bujang yang modusnya untuk kenalan dan ngobrol. Setelah agak lama mengobrol, kami pun merasa langsung akrab, khususnya dengan Yuri dan Teisong. Dua pemuda yang tidak ingin dipanggil 'adek' (karena usia mereka 3 tahun di bawah kami). Mereka ingin dipanggil 'kakak'. Busyeeettt....

Alarm jam 9 malam berbunyi. Itu tandanya kami harus pulang ke rumah Pak Muis daripada nanti kami membuat pak Muis khawatir. Malam itu adalah kali pertama kami membuka diri dengan masyarakat desa khususnya para pemuda desa Ketayu. Dalam hati saya berbisik, Ternyata di desa Kertayu ini ada toh pemudanya. Kemana sajakah selama kami tinggal satu minggu di rumah bapak kepala desa dulu?
***
(Bersambung)

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates