di sini jawabnya


Kenapa ga mau pacaran?
Saat ditanya seperti ini saya bingung mau jawab apa. Cuma simple aja, 'kasih sayang keluarga sudah cukup, kok.' Adem kan bacanya? Bisa langsung bikin jleb ga? Soalnya kalau mau diurai satu-satu, ntar malah bikin mata mengkerut dan bikin tambah minus yang udah pake kacamata.

Saya itu anak perempuan satu-satunya di keluarga yang paling bungsu, yang masih kuliah. Sedangkan abang-abang saya sudah pada nikah dan kerja atau udah pada kerja dan nikah. Saya benar-benar merasa kalau amanah dari mereka harus benar-benar saya pikul kuat. Kalau terjatuh, maka tamatlah cerita saya. Saya juga tidak mau membuat kedua orang tua yang telah membesarkan saya dan kakak-kakak saya yang telah berharap banyak sebagai penutup yang terbaik kecewa karena kepupusan saya di tengah jalan mencari ilmu. Padahal biaya yang dikeluarkan oleh mereka tidak sedikit dan kadang uang yang dikirim oleh kakak saya sering digunain ibu buat biaya hidup dan kuliah saya di sana. Dari kisah ini, para pembaca juga sudah tau pasti alasan kenapa saya tidak mau pacaran dulu. Yap! Ambisi cinta saya terhadap kebahagiaan orang tua saya masih jadi prioritas utama *ting* 'Kan yang bangga kita juga :) Nantilah, kalau mau pacaran, udah nikah hehehe. 'kan halal tuh, ga dosa, malah dapat pahala berlimpah (azeeek).

Waktu bilang ada yang suka sama saya, Ibu saya bilang gini 'Ntar aja nak kalau mau pacaran. Liat laki-lakinya dulu, udah mapan apa belum. Kalau bisa nikahnya ntar sama orang yang lebih tua 1 atau 2 tahun. batasnya sih 5 tahun di atasmu' . Siap, bos!

Cerita sedikit nih. Waktu jalan-jalan berdua sama bapak, di Gramedia ketemu sama teman cowok. Saya kenalin sama bapak saya. Langsung wajah bapak saya berubah jadi suram. Padahal cuma teman, bukan ehem pacar. Setelah saya baca di sebuah artikel tentang 'Ayah', ternyata bapak saya itu cemburu anak gadisnya sudah kenal dengan laki-laki yang kiranya bakalan jadi penggantinya untuk menjaga saya. hiks :'D Tenang, Pak. Anakmu ini bakalan milih laki-laki yang bener, kayak ibu yang beruntung dapet bapak. *senyum manis*

Nah di blog ini saya mau share jawaban dari saking banyaknya yang bertanya sudah berapa kali pacaran. Kalau mau jumpa pers, emang gue siapa !? -_-

Baiklah... Hm.. Mulai dari mana ya? *muka serius*
Jangan mengira saya yang tidak pernah pacaran tidak pernah jatuh cinta. Tidak munafik, saya pernah jatuh cinta. Laki-laki yang membuat saya nyaman itulah yang membuat saya merasa kalau inilah yang akhirnya say sebut jatuh cinta *senyum manis*

Kalau dihitung-hitung sudah sembilan kali saya tolak ajakan untuk berpacaran. Bukannya bangga. Risih lagi ada sayanya. Pernah ada seorang laki-laki yang memaksa, benar-benar memaksa untuk saya jadi pacarnya. Laki-laki itu bilang, 'Kakak ga pernah nyakitin perempuan. Perempuan yang malah sering nyakitin kakak'. Nyahahahaha :D lemah amat nih cowok sampe mau banget disakitin cewek. Itu sih masih jaman-jaman awal masuk SMA. Masih labil gara-gara peralihan dari SMP (ngalay) menuju SMA (dewasa).

Ini nih, ceritany...
Laki-laki pertama, saya temui sewaktu mengikuti pelatihan di Palembang. Rencana Allah mana ada yang tahu, bukan? Awalnya biasa saja, sampai akhirnya ia menemukan facebook saya dan kami mulai berkenalan di sana. Diawali dengan penganggapan kakak adek, akhirnya ia bilang jatuh cinta sama saya. Saya pun kaget. Saya menerima rasa cintanya, namun tak menerimanya sebagai pacar saya. Itu mungkin yang membuat ia terpukul dan tidak pernah menghubungi saya untuk beberapa waktu. Nah, dari kekosongan komunikasi inilah yang membuat saya merasa bahwa saya butuh dia. Dan saya kemudian mencoba menghubunginya kembali dan dia memanggil saya 'dinda'. Saya sebenarnya tidak ingin mengingkari semangat saya untuk tidak berpacaran, tapi entah rasa itu benar-benar sakit saat dilepaskan.

Hingga suatu hari, saya benar-benar tidak mau menyakiti orang tua saya dengan kebohongan yang saya lakukan di belakangnya. Dan akhirnya saya bilang kalau 'kita jadi teman biasa aja kayak dulu ya'. tak ada jawaban dari dia. Dan saya tahu jawabannya keesokan harinya.
Di facebook, tak sengaja di beranda ada tulisan **** in relationship with *** (nama alay sih sebenarnya -_-) .. Saya tidak bisa menceritakan perasaan saya saat melihat tulisan itu. Saya menangis sejadi-jadinya. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena setiap orang tak akan mau menunggu seseorang yang tidak memiliki kepastian.Yang lebih menyakitkan lagi, perempuan itu adalah teman baik saya sendiri sewaktu SMP. (dan SMA-nya sih pisah).

Suatu hari, saya membuat status tentang arti sebuah keikhlasan. Mungkin dibaca oleh perempuan itu, jadinya ia menghapus semua comment-an mesra dengan 'pacar'nya itu karena ingin menghargai saya sebagai teman baiknya. Dan laki-laki itupun memarahi saya akibat kesalahan saya dalam membuat status. Sakit sekali rasanya. Orang yang selama ini baik sama saya, ternyata bisa bersikap kasar terhadap saya. Cukup, terima kasih sekali. Meski singkat, saya tahu dia siapa sebenarnya.

Sekian. Memang tidak terlalu bagus cara penulisannya karena memang dari ceritanya sendiri yang sudah tidak bagus. :)

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates